Sosial Media
0
Mensinkronisasi logo dan berita terbaru...
    Home AI Berita Featured GPT-6 Astra Kecerdasan Buatan OpenAI Spesial

    OpenAI Rilis GPT-6 Astra, Model AI Terkuat ChatGPT yang Kontroversial - Kompas

    10 min read

     

    KOMPAS.com - OpenAI resmi merilis model kecerdasan buatan (AI) terbarunya bernama GPT-6 Astra, Jumat (4/9/2026). Model ini sebelumnya sudah lebih dulu dipamerkan pada awal Agustus lalu.

    Perusahaan di balik chatbot AI ChatGPT itu memperkenalkan GPT-6 sebagai model AI paling pintar dan paling selaras (aligned) dengan keinginan pengguna yang pernah dibuat perusahaan.

    Namun, di balik kemampuan tersebut, GPT-6 Astra juga disebut sebagai salah satu model OpenAI paling kontroversial. AI ini juga sempat "ditahan" pengembangannya karena dinilai mengkhawatirkan.

    Bisa operasikan komputer seperti manusia

    Kemampuan unggulannya GPT-6 Astra terletak pada computer use, kemampuan AI untuk mengoperasikan komputer dan berbagai aplikasi layaknya manusia.

    Momen Wapres Gibran Melihat Inovasi Rompi Anti Tantrum Karya Mahasiswa UB

    Dengan kemampuan ini, pengguna tidak harus terus-menerus memberi instruksi langkah demi langkah kepada AI.

    Baca juga: Nvidia Akuisisi Platform AI Hugging Face Senilai Rp 228 Triliun

    Konsepnya sederhana, Astra bisa diberi sebuah pekerjaan, kemudian menjalankan sendiri serangkaian langkah yang diperlukan untuk menyelesaikannya.

    Kemampuan computer use GPT-6 Astra cukup luas. Astra disebut bisa mengisi formulir online, memperbarui data di sistem CRM, mengatur kalender, melakukan riset di internet, kemudian menyusun hasil riset menjadi dokumen atau e-mail.

    Model ini juga dapat mengolah spreadsheet, menganalisis data ilmiah menggunakan Python notebook, bekerja menggunakan Power BI, membuat dan menguji situs web, hingga mengoperasikan software teknik seperti KiCad dan FreeCAD.

    Astra bahkan dapat memasang dan melakukan troubleshooting software.

    Pengguna cukup memberi tahu AI apa hasil akhir yang diinginkan. Kemudian Astra mengurus sendiri berbagai langkah di komputer untuk mencapainya. Dalam demonstrasinya, OpenAI memperlihatkan Astra menerima instruksi melalui suara untuk mengubah gambar lingkaran kuning sederhana menjadi sebuah roket.

    Lihat Foto

    Pengguna cukup memberi tahu AI apa hasil akhir yang diinginkan. Kemudian Astra mengurus sendiri berbagai langkah di komputer untuk mencapainya.

    Dalam demonstrasinya, OpenAI memperlihatkan Astra menerima instruksi melalui suara untuk mengubah gambar lingkaran kuning sederhana menjadi sebuah roket.

    Astra kemudian secara mandiri menggambar beberapa bidang di sekitar lingkatan kuning itu hingga menyerupai roket.

    Saat diperintah membuat model 3D di Blender dan membuat sebuah game dari roket itu, GPT-6 Astra langsung mengeksekusinya.

    Satu hal yang paling kentara adalah pengguna tak lagi memberi intruksi terperinci, seperti aplikasi mana yang harus dibuka, tombol mana yang harus diklik, bentuk apa yang digambar di mana, atau semacamnya.

    Dalam contoh lain, AI tersebut diperlihatkan membuat listing barang di eBay dan membuat presentasi hanya berdasarkan instruksi suara.

    Demonstrasi kemampuan computer use GPT 6 Astra bisa ditonton lewat video berikut ini.

    Di atas kertas, kemampuan Astra memang lebih jago dan cepat dibandingkan GPT-5.6 Sol, model andalan ChatGPT sebelumnya.

    Ini terlihat dalam pengujian OSWorld 2.0, benchmark yang digunakan untuk mengukur kemampuan agen AI dalam menyelesaikan berbagai pekerjaan di lingkungan komputer.

    Dalam pengujian offline OpenAI, GPT-6 Astra mencatat skor 72,6 persen dengan waktu penyelesaian sekitar 40 menit per tugas. Sebagai perbandingan, GPT-5.6 Sol mencatat skor 65,7 persen dan membutuhkan sekitar 75 menit per tugas.

    Dengan ini, Astra menyelesaikan tugas tersebut dalam waktu sekitar 47 persen lebih singkat dibanding GPT-5.6 Sol.

    OpenAI mengatakan peningkatan Astra berasal dari kombinasi proses pre-training berskala besar. Kemudian juga berkat reinforcement learning, sebuah metode pelatihan yang digunakan agar model semakin baik dalam menghubungkan informasi sekaligus menjalankan pekerjaan yang panjang dan terdiri dari banyak tahapan.

    Astra juga menjadi model OpenAI pertama yang proses pre-training-nya menggunakan lebih dari 100.000 DBU di infrastruktur Stargate (proyek ambisius OpenAI untuk infrastruktur pdata center AI berskala global).

    Baca juga: OpenAI Tahan Pengembangan Model AI Astra, Khawatir Terlalu Jago Nge-hack

    Skor benchmark lain tinggi

    Hasil benchmark GPT-6 Astra, model AI paling canggih dan dan paling selaras (aligned) dengan keinginan pengguna yang pernah dibuat OpenAI.

    Lihat Foto

    Selain computer use, OpenAI memamerkan sejumlah hasil benchmark GPT-6 Astra.

    Astra mencatat skor 97,6 persen pada FrontierMath Tier 4 v2, benchmark untuk menguji kemampuan menyelesaikan persoalan matematika tingkat lanjut.

    Model ini juga mencatat skor 74,1 persen pada DeepSWE v1.1 yang menguji kemampuan software engineering, serta 95,9 persen pada BenchCAD yang berkaitan dengan pekerjaan desain berbantuan komputer.

    Pada GPQA Diamond, benchmark berisi pertanyaan sains tingkat lanjut, Astra memperoleh skor 96 persen.

    Sementara pada ExploitBench, pengujian yang berkaitan dengan kemampuan menemukan dan mengeksploitasi kerentanan software, Astra mencatat skor 100 persen.

    Salah satu hasil yang paling mencolok datang dari ARC-AGI-3, yakni benchmark yang dirancang untuk menguji kemampuan AI beradaptasi dan memecahkan masalah baru yang belum pernah ditemuinya.

    Model OpenAI GPT-6 Astra ini mencatat skor 98,6 persen.

    Canggih, tapi kontroversial

    Kemampuan unggulannya GPT-6 Astra terletak pada computer use, kemampuan AI untuk mengoperasikan komputer dan berbagai aplikasi layaknya manusia.

    Lihat Foto

    Di balik kemampuan tersebut, GPT-6 Astra juga disebut sebagai salah satu model OpenAI paling kontroversial. Pemicunya adalah teknik penalaran (reasoning) yang disebut opaque recurrence.

    Sederhananya, teknik ini memungkinkan sebagian proses berpikir internal AI berlangsung dengan cara yang semakin sulit diamati melalui alur pemikiran (chain of thought).

    Padahal, kemampuan memantau proses reasoning menjadi salah satu cara peneliti memahami mengapa sebuah model mengambil keputusan tertentu.

    Jika proses tersebut semakin tidak terlihat, mengawasi perilaku AI yang semakin pintar juga menjadi lebih sulit.

    Chief Scientist OpenAI Jakub Pachocki mengakui bahwa kemampuan memonitor proses reasoning menjadi semakin menantang seiring makin canggihnya kemampuan model AI.

    Menurut Pachocki, model yang semakin mumpuni dapat menyelesaikan pekerjaan sulit menggunakan lebih sedikit token bahasa, bahkan dalam beberapa kasus tanpa token bahasa. Akibatnya, semakin sedikit pula proses yang bisa diamati melalui reasoning berbasis bahasa.

    Isu ini menjadi penting karena OpenAI memosisikan Astra sebagai AI yang justru semakin mandiri dan mampu menjalankan pekerjaan panjang di komputer.

    Tak hanya itu, kemampuan sibernya juga semakin canggih.

    Astra disebut mampu membantu mengidentifikasi dan mengembangkan eksploitasi terhadap celah keamanan zero-day, yakni kerentanan software yang belum diketahui atau belum memiliki perbaikan.

    Menurut OpenAI, kemampuan tersebut bisa dimanfaatkan oleh tim keamanan untuk menemukan celah dan menambalnya lebih cepat. Namun, kemampuan semacam ini pula yang membuat Astra membutuhkan perlindungan keamanan lebih ketat.

    Karena itu, distribusi GPT-6 Astra dilakukan secara bertahap. 

    Pada tahap awal, Astra tersedia untuk pelanggan program keamanan siber OpenAI, Daybreak. Selanjutnya, model ini akan digulirkan ke pengguna ChatGPT Plus, Pro, Business, dan Enterprise, serta tersedia melalui API.

    OpenAI juga berencana menyediakan Astra melalui platform cloud, termasuk AWS Bedrock dan Microsoft Azure, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Venture Beat dan laman resmi OpenAI.

    Baca juga: OpenAI Pamer AI Astra, Selesaikan 10 Masalah Matematika yang Belum Terpecahkan

    Saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Timur tengah dirundung duka karena gempa M 7,7. Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi. Kirim bantuan Anda melalui tautan https://bit.ly/BantuWargaNTT

    Komentar
    Additional JS