4 Tahun Lagi, China Targetkan Punya "Matahari Buatan" - Kompas
KOMPAS.com - China semakin dekat untuk menguji teknologinya yang sering disebut sebagai "matahari buatan".
Matahari buatan China itu diharapkan bisa menghasilkan listrik dari reaksi fusi nuklir, proses yang sama seperti yang membuat Matahari bersinar dan menghasilkan panas.
Proyek tersebut memiliki nama resmi Burning Plasma Experimental Superconducting Tokamak (BEST) dan dibangun di Hefei, Provinsi Anhui, China.
Kabar terbaru, kompleks fasilitas BEST telah selesai dibangun dan mulai digunakan. Sejumlah komponen utama BEST juga sudah dikirim ke lokasi sejak Juli 2026.
China Makin Dekat Punya "Matahari Buatan", Target Selesai Dibangun 2027
Menurut laporan media pemerintah China, China Central Television (CCTV), proses perakitan mesin utama sudah melewati lebih dari separuh pekerjaan yang direncanakan dan kini memasuki tahan paling penting.
Baca Juga :
Baca juga: Update Matahari Buatan China, Kini Catat Perkembangan Penting
China menargetkan seluruh BEST selesai dibangun pada akhir 2027. Setelah itu, eksperimen fusi menggunakan bahan bakar deuterium dan tritium akan dilakukan, dengan target demonstrasi pembangkitan listrik sekitar 2030.

Lihat Foto
Tiru cara Matahari menghasilkan energi
Seperti julukannya, BEST dibuat untuk mencoba meniru proses proses yang membuat Matahari menghasilkan energi, yaitu fusi nuklir.
Jika berhasil, teknologi fusi diharapkan dapat menghasilkan energi dalam jumlah besar dengan emisi karbon yang sangat rendah saat proses pembangkitan listrik berlangsung.
Ini berbeda dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang digunakan saat ini. Di mana seluruh PLTN yang beroperasi di dunia saat ini menggunakan reaksi fisi konvensional, yakni bekerja dengan cara membelah inti atom berat (seperti Uranium atau Plutonium) menjadi inti yang lebih kecil untuk menghasilkan energi.
Baca juga: Kerja di Industri AI China, Liburan Keluarga Pun Harus Izin Presiden
Fusi justru bekerja dengan cara menggabungkan inti atom ringan. Para ilmuwan mencoba membuat ini di Bumi.
Namun, membuat reaksi fusi yang stabil di Bumi bukan perkara mudah. Pasalnya, di Bumi, ilmuwan tidak bisa menggunakan gravitasi sebesar milik Matahari untuk menjaga reaksi tetap berlangsung.
Karena itu, mesin seperti BEST menggunakan medan magnet yang sangat kuat untuk menahan plasma, yaitu gas yang sudah dipanaskan hingga suhu ekstrem.
Baca juga: Bukan Hard Disk, Ilmuwan China Kini Pakai DNA untuk Simpan Data
Plasma tersebut harus dijaga agar tidak menyentuh dinding mesin. Jika menyentuh dinding, panasnya yang luar biasa tinggi dapat merusak komponen reaktor dan reaksi fusi tidak bisa berlangsung dengan baik.
Di sinilah magnet menjadi salah satu bagian terpenting dari mesin fusi.

Lihat Foto
Mesin utama BEST kini memasuki tahap yang disebut "four-layer nested assembly" atau perakitan empat lapisan.
Baca juga: “Matahari Buatan” China Tembus Batas yang Selama Ini Dianggap Mustahil
Gambaran sederhananya seperti memasukkan beberapa lapisan ke dalam sebuah tabung besar.
Bagian paling dalam adalah ruang tempat reaksi fusi berlangsung. Di sekelilingnya terdapat lapisan pelindung untuk membantu mengendalikan panas dan berbagai sistem magnet.
Magnet tersebut bertugas menghasilkan medan magnet yang sangat kuat untuk menjaga plasma tetap berada di tengah mesin dan tidak menyentuh dinding.
Baca juga: Begini Cara China Membuat Matahari Buatan
Setelah komponen-komponen besar tersebut terpasang, berbagai komponen lain yang lebih kecil dan presisi juga harus dipasang.
Jika pembangunan berjalan sesuai rencana, BEST akan selesai pada akhir 2027.
China kemudian menargetkan eksperimen untuk menghasilkan kondisi fusi yang dapat menghasilkan energi dan melakukan demonstrasi pembangkitan listrik sekitar 2030.
Baca juga: China Bikin Baterai Nuklir Mini, Bisa Tahan 50 Tahun Tanpa Dicas
Namun, target 2030 tersebut bukan berarti China akan memiliki pembangkit listrik fusi komersial pada tahun tersebut.
Yang ditargetkan adalah demonstrasi untuk membuktikan bahwa energi dari reaksi fusi dapat digunakan untuk menghasilkan listrik, sebagaimana dihimpun KompasTekno dari Global Times.
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Proyek "Matahari Buatan" China Masuki Babak Baru, Siap Digunakan 2030?
