Pendanaan pusat data AI tertekan, investor makin selektif - IDN Finansial

WASHINGTON – Gejolak pasar saham dan kenaikan suku bunga mendorong perusahaan yang menopang pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk menunda rencana penggalangan dana atau membayar biaya pendanaan yang lebih tinggi.
Seperti dikutip Reuters, investor kini menuntut bukti bahwa perusahaan mampu menghasilkan keuntungan di tengah kenaikan biaya komputasi dan pembangunan infrastruktur.
Perubahan sentimen tersebut terjadi ketika investor mulai mempertanyakan kemampuan perusahaan yang berlomba membangun infrastruktur AI untuk menghasilkan imbal hasil sepadan dengan besarnya investasi pada daya komputasi, lahan, dan energi.
Dalam sepekan terakhir, pelemahan saham terkait AI dan penurunan harga obligasi operator pusat data CoreWeave hingga mendekati level tertekan turut memengaruhi sejumlah rencana penggalangan dana.
Rencana pencatatan saham AirTrunk REIT yang didukung Blackstone, Firmus yang didukung Nvidia, serta SB Energy yang didukung SoftBank dilaporkan ditarik atau ditunda.
Meski demikian, analis menilai meningkatnya kehati-hatian investor tidak serta-merta menghentikan investasi di sektor tersebut. Investor kini semakin selektif dalam menilai model bisnis, valuasi, tingkat utang, dan kemampuan perusahaan merealisasikan proyeksi pertumbuhan.
“Pembicaraan kini bergeser dari pertumbuhan dengan biaya berapa pun menuju fokus yang jauh lebih tajam pada kualitas,” ujar Harry Evans, mitra di firma hukum Freshfields.
Evans memperkirakan aktivitas transaksi masih dapat bertahan hingga tahun depan berkat kuatnya antrean transaksi yang sedang dipersiapkan.
Namun, penundaan sejumlah pencatatan saham menunjukkan bahwa investor semakin kritis terhadap valuasi, leverage, dan model bisnis perusahaan.
Transaksi M&A Tetap Kuat
Di tengah meningkatnya kehati-hatian di pasar saham, aktivitas merger dan akuisisi (M&A) di sektor pusat data Asia masih menunjukkan kinerja kuat.
Berdasarkan data Dealogic hingga Selasa, nilai transaksi M&A pusat data di Asia mencapai US$21,3 miliar sepanjang tahun ini. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat nilai transaksi sepanjang 2025 yang sebesar US$10 miliar.
Pendanaan melalui utang juga tetap kuat.
Total penerbitan obligasi dan pinjaman sindikasi di sektor tersebut mencapai US$22,3 miliar sepanjang tahun ini.
Sebaliknya, penggalangan dana melalui pasar modal saham justru melemah.
Nilainya tercatat US$5,4 miliar, turun 4,6% dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Direktur APAC Advisory Services di perusahaan jasa properti Savills, Nicholas Tuan, mengatakan penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) umumnya membutuhkan antusiasme pasar yang tinggi agar saham yang ditawarkan dapat terserap secara berlebih.
Namun, menurut dia, investor perlu mencermati nilai fundamental aset di balik proyeksi pertumbuhan yang ditawarkan perusahaan.
Firmus, misalnya, sebelumnya menargetkan penghimpunan dana sebesar US$5 miliar. Jika terealisasi, IPO tersebut akan menjadi pencatatan saham terbesar kedua di Australia. Namun, perusahaan kesulitan meyakinkan investor mengenai kemampuannya mencapai proyeksi pendapatan yang ambisius di tengah beban utang sekitar US$30 miliar.