Industri Telekomunikasi Mencari Sumber Monetisasi Baru Melalui AI - Bisnis com
Bisnis.com, JAKARTA - Industri telekomunikasi Indonesia memasuki babak baru dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Para operator kini tidak lagi hanya berfokus sebagai penyedia layanan konektivitas, tetapi mulai bertransformasi menjadi penyedia ekosistem digital berbasis AI. Langkah ini sejalan dengan tren global yang menjadikan AI sebagai sumber pertumbuhan pendapatan baru.
Dari Efisiensi Menuju Peningkatan Pendapatan
Perusahaan telekomunikasi Tanah Air terus belajar agar AI dapat berkontribusi besar terhadap pendapatan sebagaimana laporan GSMA pada MWC Shanghai 2026.
Diketahui, laporan GSMA dalam MWC Shanghai 2026 mengungkap terdapat pergeseran orientasi proyek AI yang cukup tajam dari kuartal II/2025 menuju kuartal I/2026. Pada kuartal II/2025, perusahaan telekomunikasi global
sebagian besar (84%) menggunakan AI untuk efisiensi dan 16% untuk pendapatan. Namun, pada kuartal I/2026 angkanya bergeser di mana porsi pendapatan meningkat menjadi 38% dan porsi efisiensi 62%.
Sementara itu di Asia Pasifik dan Cina, sebanyak 45% perusahaan telekomunikasi menggunakan AI untuk memacu pendapatan. Sementara 55% sisanya masih menggunakan AI untuk penghematan biaya operasional.
Director and Chief Enterprise Strategic Relationship Officer PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk. (EXCL), Andrijanto Muljono, mengatakan bahwa pada segmen pelanggan ritel B2C, AI dimanfaatkan untuk meningkatkan pengalaman pelanggan, mempercepat penanganan keluhan, dan mendukung retensi serta monetisasi pelanggan existing melalui penawaran produk yang lebih relevan berdasarkan kebutuhan masing-masing pelanggan.
“Sementara itu untuk B2C, pengalaman pengguna yang sederhana dan personalisasi akan menjadi kunci agar AI benar-benar menciptakan nilai,” kata Adrijanto kepada Bisnis, Kamis (2/7/2026).
Menurutnya, konsep SuperApp AI menarik sebagai ceruk pasar baru. Namun, penerapannya perlu mempertimbangkan kebutuhan pasar, nilai tambah yang nyata, interoperabilitas, dan model bisnis yang berkelanjutan.
Secara global, pasar SuperApp mengalami pertumbuhan pesat. Berdasarkan riset Grand View Research, nilai pasar SuperApp diperkirakan mencapai US$121,1 miliar pada 2025 dan diproyeksikan meningkat menjadi US$968,77 miliar pada 2033.
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) juga melihat pemanfaatan AI sebagai peluang pertumbuhan baru bagi industri telekomunikasi, terutama ketika dapat menghubungkan konektivitas, data, layanan digital, keamanan, dan ekosistem dalam satu pengalaman yang memberi nilai tambah bagi pelanggan.
“Pada prinsipnya, teknologi harus terasa membantu: lebih cepat, lebih mudah, lebih aman, dan memberi manfaat nyata bagi semua orang, setiap rumah, dan kegiatan usaha,” kata Andri Herawan Sasoko, VP of Corporate Communication Telkom Indonesia (TLKM).
Sementara itu di segmen B2C, AI diarahkan Telkom untuk menghadirkan pengalaman digital yang lebih personal, mudah, dan relevan melalui layanan yang telah digunakan pelanggan sehari-hari.
B2B Masih Sebagai Sumber pendapatan Utama
Adapun untuk segmen bisnis (B2B), AI selama ini lebih banyak dimanfaatkan untuk meningkatkan efisiensi operasional. Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Eksekutif Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), Marwan O. Baasir.
Dia sependapat dengan Andri Herawan Sasoko, yang menyatakan bahwa AI diarahkan untuk membantu bisnis meningkatkan produktivitas, memperkuat efisiensi proses, mengoptimalkan insight berbasis data, dan mendukung transformasi digital yang lebih terukur.
Sedangkan bagi Andrijanto Muljono, solusi AI untuk segmen B2B telah menjadi sumber pendapatan baru. Misalnya ekosistem ESTA (Enterprise Smart Technology & Automation), yang mencakup ESTA Prime, ESTA eco, hingga ESTA connect 5G, ESTA vision. Seluruh layanan tersebut mengintegrasikan AI, data platform, cloud, cybersecurity, dan Industrial IoT dalam satu platform terpadu.
B2C Tinggal Menyusul untuk Tumbuh Melalui SuperApp
Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Sarwoto Atmosutarno menilai ke depan peran AI akan makin membuat baur (mixed) antara layanan seluler dan fixed (konvergen). Bahkan B2B dan B2C hanya berbeda volume saja.
Dia mengatakan pengembangan SuperApps AI keharusan untuk eksistensi operator dalam 3-4 tahun ke depan. Kerja sama antara perusahaan telekomunikasi dimungkinkan untuk interconnecting SuperApps AI.
“Delivery, Price and Quality (DPQ) berbeda pendekatan dengan teknologi saat ini. SuperApps AI based akan menyelesaikannya [permasalahan tersebut]” kata Sarwoto.
Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan selama ini memang AI dianggap sebagai teknologi yang mampu memberikan efisiensi, seperti iklan yang lebih targeted dan sebagainya.
Namun sekarang, AI juga dipandang sebagai alat untuk mengenerate revenue yang lebih masif. Teknologi AI bisa dipadupadankan dengan berbagai sektor untuk mengumpulkan pendapatan yang lebih banyak. Salah satunya dengan integrasi layanan premium dengan paket langganan.
Cara membundling paket premium dengan paket internet masih jamak dilakukan di layanan selain AI seperti OTT dan sebagainya.
Industri telekomunikasi tengah mengalami transformasi besar. Ketika layanan konektivitas semakin menjadi komoditas dengan tingkat persaingan yang tinggi, para operator mulai mengandalkan pengalaman digital berbasis AI, platform bisnis, serta solusi khusus untuk berbagai sektor industri sebagai mesin pertumbuhan berikutnya.
Bagi industri telekomunikasi Indonesia, keberhasilan adopsi AI pada tahap selanjutnya tidak lagi hanya diukur dari peningkatan efisiensi operasional, tetapi juga dari kemampuannya menciptakan model bisnis baru yang mampu menghasilkan sumber pendapatan berkelanjutan.